Pada kontrasepsi implan, saat implan dimasukkan ke dalam tubuh, tidak diperlukan perlakuan apapun lagi (sehingga penggunaan implan menjadi penggunaan sempurna) sampai tiba waktunya untuk diganti. Dalam hal ini maka penggunaan tipikal sama saja dengan penggunaan sempurna, sampai saat penggantian implan.
Seseorang cenderung menggunakan suatu metode kontrasepsi secara tepat ketika semakin terbiasa dengan metode kontrasepsi tersebut. Hasilnya, perbedaan efektivitas antara penggunaan yang tipikal dengan penggunaan sempurna semakin berkurang seiring dengan berjalannya waktu.
Tahukah anda....
Efektivitas perhitungan pada metode kontrasepsi seperti pil atau metode ritmik bergantung pada sebaik apa petunjuknya dipatuhi/ diikuti.
• Metode hormonal
Terdapat beragam metode dalam kontrasepsi hormonal. Metode ini dapat dilakukan melalui mulut (kontrasepsi oral), melalui vagina, ditempelkan pada kulit, ditanam di bawah kulit, maupun disuntikkan ke dalam otot. Hormon yang digunakan untuk mencegah konsepsi meliputi estrogen dan progestin (suatu senyawa yang mirip dengan hormon progesteron). Metode hormonal mencegah kehamilan dengan cara menghambat pelepasan sel telur dari ovarium, atau mengentalkan mukus/ lendir serviks (leher rahim) sehingga sperma tidak bisa dapat melewati serviks ke rahim. Selain itu, metode hormonal juga mencegah sel telur dibuahi oleh sperma. Dalam penggunaannya, metode-metode hormonal memiliki efek samping dan batasan/larangan yang hampir sama.
• Kontrasepsi Oral
Kontrasepsi oral, yang biasa dikenal dengan pil KB (terkadang ’pil’ saja) mengandung homon, baik kombinasi hormon progestin dan estrogen maupun hormon progestin saja. Pil KB kombinasi biasanya diminum sehari sekali selama 3 minggu kemudian istirahat 1 minggu tidak minum pil (supaya menstruasi dapat terjadi) dan mulai minum pil KB lagi seperti semula. Tablet yang berisi bahan inaktif biasanya disertakan dalam kemasan untuk diminum saat masa istirahat. Hal ini bertujuan agar rutinitas minum pil terjaga setiap hari. Ada produk pil KB yang diminum secara rutin selama 12 minggu diikuti masa istirahat selama 1 minggu. Sehingga menstruasi hanya terjadi 4 kali dalam setahun. Ada juga produk yang harus meminum pil KB aktif setiap hari. Apabila menggunakan produk ini maka tidak ada masa menstruasi, walaupun kadang-kadang perdarahan menstruasi bisa saja terjadi.
Sekitar 0,3% wanita yang menggunakan pil KB kombinasi sesuai instruksi bisa hamil pada tahun pertama penggunaan. Peluang terjadinya kehamilan akan semakin besar bila wanita terlewat atau lupa untuk minum pil, terutama di hari-hari awal pada siklus menstruasi.
Dosis estrogen pada pil KB kombinasi bervariasi. Biasanya pil KB kombinasi dengan dosis estrogen yang rendah (20-35 mikrogram) banyak digunakan karena memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan yang berdosis tinggi (50 mikrogram). Wanita sehat yang tidak merokok dapat menggunakan pil KB kombinasi dosis rendah tanpa henti sampai menjelang menopause.
Pil KB yang hanya mengandung progestin diminum setiap hari tanpa henti. Terkadang pil KB ini menyebabkan perdarahan menstruasi tidak teratur. Angka terjadinya kehamilan dengan pil yang hanya mengandung progestin sama dengan pil KB kombinasi. Pil KB yang hanya mengandung progestin biasanya diresepkan bila pemberian estrogen merugikan wanita. Misalnya pil ini diresepkan pada wanita menyusui karena estrogen berefek mengurangi jumlah dan kualitas ASI. Tablet yang hanya mengandung progestin tidak mempengaruhi produksi ASI.
Sebelum mulai menggunakan kontrasepsi oral, wanita harus menjalankan pemeriksaan fisik yang meliputi pengukuran tekanan darah untuk memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah kesehatan ketika menggunakan kontrasepsi oral. Tiga bulan setelah penggunaan kontrasepsi oral, wanita tersebut harus menjalani pemeriksaan kembali untuk melihat ada/tidaknya perubahan tekanan darah. Jika tidak ada perubahan, pemeriksaan kesehatan dilakukan setidaknya sekali setahun.
Jika seorang wanita memiliki penyakit arteri koroner atau diabetes, atau memiliki risiko kedua penyakit tersebut (ada kerabat dekat yang memiliki penyakit tersebut) biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk memeriksa kadar kolesterol, lipid dan juga gula darah. Jika hasil pemeriksaan diketahui level darahnya tidak normal, dokter mungkin meresepkan kombinasi estrogen dosis rendah, namun secara berkala dilakukan monitor pada kadar lipid dan gula darah.
Sebelum memulai penggunaan kontrasepsi oral, seorang wanita harus berkonsultasi pada dokter mengenai keuntungan dan kerugian kontrasepsi oral bagi dirinya.
Keuntungan kontrasepsi oral
Keuntungan utama kontrasepsi oral yaitu dapat diandalkan bila digunakan secara terus-menerus. Selain itu, penggunaan kontrasepsi oral mengurangi kejang otot pada saat menstruasi, PMS, jerawat, perdarahan tidak teratur, anemia, kista pada payudara ataupun rahim, kehamilan di luar rahim, dan infeksi saluran telur. Selain itu, wanita yang menggunakan kontrasepsi oral, lebih sedikit terkena risiko osteoporosis.
Penggunaan kontrasepsi oral dapat mengurangi risiko beberapa tipe kanker, termasuk kanker uterin (endometrial) dan kanker rahim. Risiko berkurang untuk beberapa tahun setelah kontrasepsi dihentikan.
Kontrasepsi oral yang diminum pada awal kehamilan tidak membahayakan janin. Namun, wanita tersebut harus menghentikan penggunaan kontrasepsi oral segera setelah ia menyadari bahwa ia hamil. Kontrasepsi oral tidak memiliki pengaruh jangka panjang pada kesuburan wanita, meskipun wanita bisa saja tidak melepaskan telur (ovulasi) untuk beberapa bulan setelah penghentian obat. Dokter merekomendasikan wanita pasca melahirkan menunggu sekitar 2 minggu untuk memulai kontrasepsi oral.
Tahukah anda....
o Dengan metode kontrasepsi oral tertentu, periode menstruasi hanya muncul
selama 4 kali dalam satu tahun.
o Kontrasepsi hormonal dapat mempunyai beberapa keuntungan
Kekurangan kontrasepsi hormonal
Kekurangan penggunaan kontrasepsi hormonal mencakup efek samping yang merugikan. Perdarahan yang tidak teratur paling banyak ditemui pada bulan-bulan pertama penggunaan kontrasepsi oral, namun biasanya akan berhenti dengan sendirinya bila tubuh telah beradaptasi dengan kandungan hormon dalam kontrasepsi oral tersebut. Jika perdarahan tidak teratur terus berlangsung, dokter bisa saja menyarankan meminum kontrasepsi oral setiap hari, tanpa istirahat (jeda) selama beberapa bulan untuk mengurangi terjadinya perdarahan.
Beberapa efek samping yang muncul berkaitan dengan kandungan estrogen dalam tablet. Efek samping dapat berupa mual, kembung, retensi cairan, peningkatan tekanan darah, nyeri payudara, dan migrain. Beberapa efek samping berhubungan dengan tipe atau dosis progestin. Efek samping dapat berupa pertambahan berat badan, jerawat, dan gelisah. Beberapa wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral berat badannya naik sekitar 3-5 pon (1,4-2,3 kg) dikarenakan retensi cairan. Terkadang berat badan bisa bertambah lagi karena nafsu makan yang meningkat. Banyak efek samping tersebut jarang muncul dengan penggunaan tablet dosis rendah.
Pada beberapa wanita, kontrasepsi oral menimbulkan bercak-bercak hitam (melasma) di wajah, serupa dengan bercak yang dapat muncul selama kehamilan. Paparan sinar matahari dapat membuat bercak tersebut lebih gelap. Jika bercak gelap bertambah, wanita tersebut harus berkonsultasi pada dokter mengenai penghentian penggunaan kontrasepsi oral. Bercak hitam akan memucat secara bertahap setelah penggunaan kontrasepsi oral dihentikan.
Menggunakan kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit. Risiko terjadinya pembekuan darah di vena meningkat pada wanita yang menggunakan pil KB kombinasi dibandingkan yang tidak menggunakan. Risikonya meningkat 7 kali lebih tinggi dengan tablet yang mengandung estrogen dosis tinggi. Risiko meningkat sekitar 3 sampai 4 kali untuk estrogen dosis rendah. Akan tetapi, risiko yang muncul tersebut hanya setengah saja dari resiko terjadinya pembekuan darah saat hamil. Wanita yang memiliki anggota keluarga menderita pembekuan darah harus memberitahukan kepada dokter sebelum menggunakan kontrasepsi oral. Dikarenakan pembedahan/ operasi meningkatkan risiko terjadinya pembekuan darah, seorang wanita harus menghentikan penggunaan kontrasepsi oral sebulan sebelum dilakukan prosedur operasi dan tidak menggunakan kontrasepsi oral tersebut sampai sebulan setelahnya. Untuk wanita sehat yang tidak merokok, penggunaan pil kombinasi dengan estrogen dosis rendah tidak meningkatkan risiko terjadinya stroke maupun serangan jantung.
Penggunaan kontrasepsi oral lebih dari 5 tahun, dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker leher rahim (serviks). Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral harus melakukan Papanicolaou test atau tes pap smear setidaknya sekali dalam setahun. Tes ini dapat mendeteksi adanya perubahan pada leher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker sebelum berubah menjadi kanker.
Penggunaan kontrasepsi oral tidak meningkatkan risiko kanker payudara, tidak juga pada wanita dengan usia 35 – 65 tahun. Selain itu, penggunaan kontrasepsi oral juga tidak meningkatkan risiko kanker payudara pada kelompok berisiko tinggi (misalnya wanita dengan kelainan payudara ringan atau keluarga dengan riwayat kanker payudara).
Menggunakan kontrasepsi oral dapat menyebabkan batu empedu tumbuh lebih besar, namun tidak menyebabkan pembentukan batu empedu yang baru. Sehingga adanya batu empedu lebih sering terdiagnosa pada tahun-tahun pertama penggunaan kontrasepsi oral.
Untuk wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dan perokok, penggunaan kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung. Secara tipikal, wanita tersebut tidak boleh menggunakan kontrasepsi oral. Namun jika wanita tersebut dimonitor secara ketat oleh praktisi kesehatan, ia dapat menggunakan kontrasepsi oral. Menggunakan cyclophosphamide (CYTOXAN), antibiotik tertentu, atau obat antifungi tertentu dapat membuat kontrasepsi oral menjadi kurang efektif. Jika seorang wanita yang menggunakan kontrasepsi oral menggunakan salah satu obat tersebut, maka ia harus menggunakan juga metode kontrasepsi lain sampai periode awal setelah penggunaan obat-obat tersebut selesai.
Seorang wanita tidak boleh menggunakan kontrasepsi oral pada situasi berikut:
3. Perokok dan usianya di atas 35 tahun
4. Memiliki gangguan hati maupun tumor pada hati
5. Memiliki kadar trigliserida yang sangat tinggi (250 mg/dL atau lebih tinggi)
6. Memiliki tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol
7. Memiliki penyakit diabetes mellitus yang tidak terkontrol
8. Memiliki gangguan ginjal
9. Memiliki penyumbatan darah di betis akibat adanya bekuan darah (trombosis vena)
10. Kondisi kaki yang tidak bergerak (seperti pada penggunaan gips)
11. Memiliki penyakit arteri koroner
12. Pernah mengalami stroke
13. Menjalankan operasi dalam bulan sebelumnya atau akan menjalankan operasi pada bulan berikutnya
14. Memiliki penyakit kolestasis (aliran empedu berkurang) selama kehamilan atau memiliki sakit kuning (jaundice) selama penggunaan kontrasepsi oral sebelumnya
15. Memiliki kanker payudara atau kanker endometrial yang dapat berkembang dengan stimulasi estrogen
16. Pernah terkena serangan jantung
17. Mengalami perdarahan vagina dengan sebab yang tidak diketahui
18. Memiliki penyakit lupus/systemic lupus erythematosus (SLE)
Wanita dapat menggunakan kontrasepsi oral hanya dengan pengawasan dari dokter pada situasi berikut:
19. Wanita yang mengalami depresi
20. Memiliki diabetes yang dikontrol dengan baik dan tidak mempengaruhi sirkulasinya
21. Memiliki sindroma pra haid/premenstrual syndrome (PMS)
22. Tidak memiliki periode menstruasi (amenorrhea) untuk alasan yang tidak diketahui
23. Sering mengalami migrain (tapi tidak dengan gejala gangguan sistem saraf pusat, seperti rasa kebas atau lemah pada lengan atau wajah)
24. Perokok berusia di bawah 35 tahun
25. Memiliki hepatitis atau penyakit hati lainnya dan telah sembuh total
26. Memiliki tekanan darah tinggi yang dikontrol dengan pengobatan
27. Memiliki varises
28. Memiliki gangguan kejang yang telah diobati dengan obat
29. Memiliki fibroid di rahim
30. Memiliki prekanker, abnormalitas pada rahim dan kanker rahim yang telah diobati
31. Obesitas
32. Memiliki hubungan dekat dengan keluarga yang menderita penyumbatan darah
* pantangan ini hanya untuk kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dan progestin.
mg/dL = milligram per desiliter darah
Kontrasepsi koyo (koyo KB) dan cincin vagina
Koyo KB dan cincin vagina mengandung estrogen dan progestin dan digunakan selama 3 sampai 4 minggu, kemudian dilepas. Pada minggu keempat, kontrasepsi tersebut tidak digunakan supaya menstruasi dapat terjadi.
Koyo KB ditempelkan seminggu sekali selama 3 minggu berturut-turut. Koyo ditempelkan dikulit kemudian didiamkan selama 1 minggu, kemudian dilepas. Koyo yang baru ditempelkan di area kulit yang berbeda. Pada minggu ke 4 Koyo KB tidak digunakan. Olahraga dan sauna maupun penggunaan bak mandi air panas tidak akan menggeser posisi koyo KB ini.
Cincin vagina merupakan alat plastik kecil yang ditempatkan dalam vagina selama 3 minggu. Kemudian, cincin dilepas selama 1 minggu. Seorang wanita dapat memasang dan melepas cincin vagina sendiri. Cincin vagina terdiri dari satu ukuran dan dapat ditempatkan di mana saja di dalam vagina. Biasanya cincin tidak dirasakan pasangan sewaktu berhubungan. Cincin vagina yang baru diganti setiap bulannya. Masing-masing metode efektif bila digunakan secara benar dan sempurna. Efektivitasnya sama dengan kontrasepsi oral. Terkadang, koyo kontrasepsi kurang efektif pada wanita yang kelebihan berat badan (overweight).
Dengan metode koyo KB dan cincin vagina, wanita memiliki periode menstruasi yang teratur. Bercak maupun perdarahan jarang terjadi. Efek samping, risiko, dan batasan/larangan sama dengan kontrasepsi oral kombinasi.
Kontrasepsi implan
Kontrasepsi implan merupakan kontrasepsi yang berbentuk batang kecil yang mengandung hormon progestin. Setelah dokter mematikan rasa di kulit dengan menggunakan anastetik, kemudian alat seperti jarum (trocar) digunakan untuk menempatkan implan di bawah kulit pada lengan bagian atas. Pemasangan implan tidak memerlukan jahitan pada kulit. Secara perlahan, implan akan melepaskan progestin ke dalam aliran darah. Implan efektif digunakan selama 3 tahun.
Efek samping yang paling banyak ditemukan adalah periode menstruasi yang tidak teratur atau tidak mendapatkan menstruasi selama tahun pertama penggunaan. Setelah itu, periode menstruasi menjadi teratur. Sakit kepala dan pertambahan berat badan juga bisa terjadi. Efek samping ini terkadang membuat wanita ingin melepaskan implan. Karena implan tidak diserap tubuh, dokter harus melakukan sayatan pada kulit untuk melepaskannya. Melepaskan implan lebih sulit daripada penyisipannya dikarenakan jaringan di bawah kulit menjadi lebih tebal di sekitar implan. Segera setelah implan dilepaskan, ovarium kembali ke fungsi normalnya, dan wanita subur kembali.
Kontrasepsi injeksi/suntikan
Progestin atau medroxyprogesterone diinjeksikan oleh tenaga kesehatan setiap tiga bulan sekali. Tersedia 2 tipe injeksi. Tipe yang pertama adalah yang disuntikkan ke jaringan otot di lengan maupun bokong, dan tipe kedua yaitu disuntikkan di bawah kulit. Masing-masing tipe sangat efektif.
Progestin mengganggu siklus menstruasi. Sekitar sepertiga wanita yang menggunakan kontrasepsi ini tidak mengalami menstruasi selama 3 bulan setelah injeksi pertama. Sedangkan sepertiga lainnya mengalami perdarahan tidak teratur dan bercak selama lebih dari 11 hari setiap bulannya. Setelah kontrasepsi ini digunakan selama beberapa waktu, perdarahan yang tidak teratur semakin jarang terjadi. Setelah 2 tahun, sebanyak 70% wanita tidak akan mengalami perdarahan sama sekali. Ketika injeksi dihentikan, menstruasi kembali teratur dalam waktu 6 bulan pada separuh wanita dan dalam waktu 1 tahun bagi tiga perempat wanita lainnya. Kesuburan mungkin saja belum kembali seperti semula sampai satu tahun setelah injeksi dihentikan.
Efek samping yang bisa muncul meliputi sedikit penambahan berat badan, sakit kepala, menstruasi tidak teratur atau tidak menstruasi, dan menurunnya kepadatan tulang untuk sementara waktu. Biasanya, kepadatan tulang akan kembali seperti semula setelah injeksi dihentikan. Orang yang mendapatkan suntikan kontrasepsi hormonal, terutama remaja dan wanita muda harus mengkonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D setiap hari untuk membantu memelihara kepadatan tulang.
Medroxyprogesterone tidak meningkatkan risiko penyakit kanker, termasuk kanker payudara. Medroxyprogesteron mengurangi risiko munculnya kanker endometrial, penyakit radang pelvis (infeksi pada organ reproduksi wanita bagian atas), dan anemia karena kekurangan zat besi. Interaksi dengan beberapa obat jarang ditemukan.
Kontrasepsi darurat
Kontrasepsi darurat, yang biasa disebut morning after pill mengandung hormon atau obat yang dapat mempengaruhi hormon. Pil ini digunakan paling lama 72 jam setelah terjadi hubungan seksual tanpa kontrasepsi atau metode kontrasepsi yang digunakan gagal, misalnya terjadi kebocoran kondom.
Kontrasepsi darurat dapat mengurangi kemungkinan hamil setelah terjadi satu kali hubungan seksual tanpa pelindung, termasuk ketika hubungan seksual tersebut dilakukan mendekati saat ovulasi. Mendekati waktu ovulasi, peluang terjadinya kehamilan sekitar 8% tanpa kontrasepsi. Semakin cepat kontrasepsi darurat digunakan, semakin efektif kerjanya.
Tersedia 2 pilihan dalam kontrasepsi darurat :
0. Levonorgestrel
Hormon ini paling banyak digunakan dalam kontrasepsi darurat. Levonorgestrel atau progestin dalam dosis yang lebih rendah lebih banyak digunakan. Umumnya, satu dosis diminum, kemudian diikuti dengan dosis lain 12 jam kemudian. Jika dosis pertama dikonsumsi 72 jam setelah berhubungan, kemungkinan terjadinya kehamilan berkurang sampai hampir 90%. Jika dosis pertama dikonsumsi dalam waktu 24 jam setelah berhubungan, peluang kehamilan berkurang sampai sekitar 95%. Beberapa dokter merekomendasikan kedua tablet levonorgestrel dikonsumsi pada waktu yang sama. Metode ini cukup efektif. Untuk tiap penggunaan dapat diminum 1 tablet dosis biasa atau 20 tablet dosis rendah.
1.Kontrasepsi kombinasi
Kontrasepsi darurat menggunakan pil kontrasepsi oral kombinasi. 2 tablet (pil) KB kombinasi diminum sekaligus dalam jangka waktu 72 jam setelah terjadi hubungan seksual tanpa pengaman. Selanjutnya 2 tablet pil kb kombinasi berikutnya dikonsumsi 12 jam kemudian. Pilihan ini kurang efektif dalam mencegah kehamilan daripada metode lainnya. Sebanyak 50% wanita mengalami mual, dan 20% mengalami muntah. Obat antiemetik dapat digunakan untuk mencegah mual dan muntah.
Kontrasepsi penghalang/barrier
Kontrasepsi penghalang/barrier secara fisik menghalangi sperma memasuki rahim wanita. Kontrasepsi penghalang/barrier mencakup kondom, diafragma, penutup serviks, dan spons kontrasepsi

Alat kontrasepsi penghalang/barrier mencegah sperma memasuki rahim wanita. Mencakup kondom, diafragma, penutup serviks, dan spons kontrasepsi. Beberapa kondom dapat mengandung spermisida. Kondom dan metode penghalang lain yang tidak mengandung spermisida harus digunakan bersama bahan spermisida.
Kondom
Kondom merupakan pelindung tipis yang menutupi penis. Kondom terbuat dari karet/ lateks yang merupakan satu-satunya kontrasepsi yang melindungi penyakit menular seksual, termasuk yang disebabkan oleh bakteri (seperti gonorrhea dan syphilis) dan disebabkan karena virus (seperti HPV—human papillomavirus— dan HIV—human immunodeficiency virus). Namun bagaimanapun, perlindungan ini (dengan berbagai pertimbangan) tidaklah sempurna. Kondom yang terbuat dari poliuretan juga menyediakan perlindungan, namun kondom jenis ini lebih tipis dan lebih mudah sobek. Kondom yang terbuat dari kulit lembu tidak melindungi dari serangan infeksi virus seperti infeksi HIV.
Kondom harus digunakan secara benar agar penggunaannya efektif.
Untuk beberapa jenis kondom tertentu, bagian ujung kondom perlu diberi jarak saat dipasang, sekitar ½ inchi (kurang lebih 1 ¼ cm) dari ujung penis. Gunanya sebagai tempat untuk menampung sperma. Ada juga jenis kondom lain yang telah mempunyai ruang khusus pada bagian ujungnya untuk menampung sperma. Segera setelah terjadi ejakulasi, penis harus ditarik dari vagina dengan cara memegang bagian lingkaran/pinggir kondom dengan erat pada pangkal penis untuk mencegah supaya kondom tidak terlepas dan menumpahkan sperma. Kemudian kondom dapat dilepaskan secara perlahan. Jika sperma tumpah saat penis ditarik, maka sperma dapat masuk ke dalam vagina dan menyebabkan kehamilan. Kondom yang baru harus digunakan setiap seseorang akan melakukan hubungan seksual dan kondom yang tidak layak/meragukan sebaiknya tidak digunakan/dibuang.
Selama tahun pertama penggunaan kondom, peluang kehamilan sekitar 6% dengan pemakaian sempurna dan sekitar 16% dengan pemakaian tipikal. Pembunuh sperma/ spermisida yang kadang terdapat dalam pelumas (lubrikan) kondom atau dimasukkan secara terpisah ke dalam vagina, meningkatkan efektivitas kondom.
Tahukah anda....
Kondom yang terbuat dari lateks merupakan satu-satunya metode kontrasepsi yang dapat melindungi terhadap penyakit infeksi seksual, termasuk infeksi HIV.
Diafragma
Diafragma, karet yang berbentuk setengah bola (kubah) dilengkapi dengan penutup yang fleksibel, dimasukkan ke dalam vagina, dan ditempatkan dalam leher rahim. Diafragma menghalangi sperma memasuki rahim.
Diafragma tersedia dalam berbagai ukuran dan dokter/tenaga kesehatan dapat membantu untuk menentukan ukuran yang sesuai. Dokter/tenaga kesehatan tersebut juga akan mengajarkan mengenai cara memasukkannya. Jika seorang wanita mengalami peubahan berat badan (naik maupun turun) sekitar 10 pon (4,5 kg), telah menggunakan diafragma lebih dari 1 tahun, atau telah memiliki bayi atau telah diaborsi, maka ukuran diafragmanya harus disesuaikan kembali karena ada kemungkinan bentuk dan ukuran vagina mengalami perubahan.
Diafragma harus menutupi leher rahim tanpa menyebabkan ketidaknyamanan. Baik wanita maupun pasangannya sebaiknya tidak merasakan keberadaan diafragma tersebut. Krim kontrasepsi maupun gel kontrasepsi (yang dapat membunuh sperma) harus selalu digunakan sewaktu menggunakan diafragma, karena dikhawatirkan diafragma dapat bergeser selama hubungan seksual dilakukan.
Diafragma dimasukkan sebelum berhubungan dan tidak boleh dipindah dari tempatnya (vagina) setidaknya 8 jam setelah berhubungan, namun tidak lebih dari 24 jam.
Jika hubungan seksual berulang ketika diafragma masih di tempatnya, diperlukan penambahan krim atau gel kontrasepsi untuk melanjutkan perlindungan. Wanita harus memeriksa diafragmanya secara teratur apakah rusak/sobek. Selama tahun pertama penggunaan diafragma, persentasi kehamilan sekitar 6% dengan penggunaan sempurna dan 16% dengan penggunaan tipikal.
Penutup serviks
Penutup serviks mirip dengan diafragma, namun lebih kecil dan lebih keras. Penutup serviks menempati ruangan di serviks (leher rahim) dengan pas. Alat kontrasepsi ini belum tersedia di Indonesia.
Penutup serviks harus disesuaikan ukurannya oleh dokter/tenaga kesehatan. Krim kontrasepsi atau gel harus selalu digunakan bila menggunakan penutup serviks. Penutup harus dimasukkan sebelum berhubungan dan didiamkan setidaknya 8 jam setelah berhubungan, namun tidak lebih dari 48 jam.
Selama tahun pertama penggunaan penutup serviks pada wanita yang belum memiliki anak, kehamilan dapat terjadi sekitar 9% dengan penggunaan sempurna dan 18% dengan penggunaan tipikal. Untuk wanita yang telah memiliki anak kemungkinan terjadinya kehamilan menjadi 2x lipat. Melahirkan mengubah leher rahim sehingga membuat penutup serviks lebih sulit untuk melindungi dengan pas.
Spons kontrasepsi
Sebagai tambahan dalam menghalangi sperma memasuki rahim, spons kontrasepsi mengandung spermisida. Tersedia secara bebas dan tidak memerlukan bantuan tenaga ahli.
Spons dapat dimasukkan ke dalam vagina sampai sekitar 24 jam sebelum berhubungan seksual dan spons menyediakan perlindungan dalam waktu tersebut, tanpa mempengaruhi berapa banyak hubungan seksual diulang. Spons harus didiamkan setidaknya 6 jam setelah hubungan terakhir. Namun spons tidak boleh didiamkan lebih dari 30 jam. Biasanya pasangan tidak menyadari keberadaan spons. Spons kontrasepsi kurang efektif dibandingkan diafragma.
Masalah yang berhubungan dengan penggunaan spons sebagai kontrasepsi jarang terjadi. Namun masalah yang ditemui meliputi reaksi alergi, vagina menjadi kering atau iritasi vagina dan kesulitan melepas spons.
Spermisida
Spermisida merupakan sediaan yang dapat membunuh sperma. Tersedia dalam bentuk busa vagina, krim, gel, dan suppositoria. Spermisida ditempatkan di vagina sebelum berhubungan seksual. Kontrasepsi ini juga menyediakan barrier fisik ke sperma. Tidak ada sediaan yang lebih efektif dibanding yang lain. Spermisida paling baik digunakan dengan kontrasepsi barrier seperti kondom dan diafragma.
Intrauterine Devices (IUD)/ Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat kontrasepsi dalam rahim merupakan alat yang berukuran kecil, terbuat dari plastik elastis yang dimasukkan dalam rahim. IUD atau AKDR ditempatkan selama 5 sampai 10 tahun, tergantung pada tipe atau sampai wanita tersebut ingin agar alat tersebut dilepas. IUD harus dimasukkan dan dilepaskan oleh dokter atau praktisi kesehatan lainnya. Pemasukan IUD hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Pelepasannya juga cepat dan biasanya hanya sedikit menimbulkan ketidaknyamanan. IUD mencegah kehamilan dengan berbagai cara:
1. Membunuh maupun meng-imobilisasi sperma
2. Mencegah sperma membuahi telur
3. Mencegah telur yang terbuahi menempel di rahim
Intrauterine devices (IUD) merupakan alat kontrasepsi kecil yang terbuat dari sejenis plastik yang dimasukkan oleh tenaga ahli (dokter, perawat, maupun bidan) ke dalam rahim melalui vagina. Terdapat beberapa tipe IUD. Tipe pelepas tembaga, yaitu tipe IUD yang pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga. Sedangkan tipe lainnya yaitu tipe pelepas progestin. Benang plastik tetap menempel pada IUD sehingga wanita dapat memastikan alat IUD masih pada tempatnya.
Di Indonesia terdapat dua tipe IUD. Tipe pertama yaitu IUD pelepas progestin (levonorgestrel), memiliki masa efektif selama 5 tahun. Selama periode 5 tahun tersebut, hanya sekitar 0,5 % wanita yang mengalami kehamilan.
Tipe yang kedua adalah IUD yang melepaskan tembaga, yang memiliki efektivitas sekitar 10 tahun. Selama waktu tersebut, kurang dari 2% wanita hamil. Satu tahun setelah IUD dilepas, 80 sampai 90% yang ingin hamil, bisa hamil.
IUD yang dimasukkan 1 minggu setelah terjadi 1 kali hubungan seksual tanpa pengaman, efektivitasnya mendekati 100% seperti pada metode kontrasepsi darurat. IUD tidak mempunyai efek sistemik (tidak mempengaruhi seluruh tubuh).
Rahim bisa saja terkontaminasi bakteri pada saat pemasukan IUD, namun infeksi jarang ditemukan. Benang pada IUD tidak menyebabkan masuknya bakteri. IUD meningkatkan risiko infeksi panggul hanya pada bulan pertama penggunaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar